Wow...! Ada Ayunan Raksasa Setinggi 12 Meter di Sulawesi Selatan

Wow...! Ada Ayunan Raksasa Setinggi 12 Meter di Sulawesi Selatan
Tradisi Mattojang atau ayunan raksasa di Pinrang digelar sebagai tradisi syukur atas hasil panen petani
PINRANG - Sebuah ayunan raksasa setinggi 12 meter, menjadi ajang "uji nyali" para petani dari berbagai desa di Kecamatan Cempa, Pinrang, Sulawesi Selatan, Sabtu (11/10/2014).

Sejumlah warga yang mewakili desa mereka, menunjukkan keberaniannya dengan mengayunkan diri hingga diketinggian lebih dari 12 meter. Permainan rakyat ini tentu saja menjadi tontonan yang mendebarkan. Tidak hanya bagi para pattojang atau pemain tapi juga para penonton.

Puluhan warga atau pattojang pemberani menjadi duta mewakili desa mereka adu nyali dan keberanian dalam permainan tradisional mattojang antar kampung. Lihat saja ibu yang mewakli Desa Landrisang ini. Penampilan serta keberanian mereka mengayungkan diri hingga diketinggian cukup mendebarkan jantung para penonton. Sejumlah penoton yang menyaksikan permainan rakyat yang selalau menyedor perhatian ini bahkan histeris.

Peserta dari desa lain juga tak kalah berani. Seperti yang dilakukan seorang ibu yang mewakili Desa Sikkuala ini, dia berani mengayunkan diri hingga di ketinggian lebih dari 12 meter atau lebih tinggi dari tiang ayunan. Meski para pattojang tampak santai dan menikmati permainan yang mendebarkan ini, namun penonton justru tampak histeris menyaksikan keberanian para patojang unjuk kebolehan.

Untuk memainkan permianan tradisional ini, selain memerlukan pattojang yang berani juga dibutuhkan paddere atau pengayun yang terampil. Paddere yang biasanya berjumlah dua hingga empat orang. Paddere yang tidak mahir bisa membuat para pattojang mengayun dalam posisi yang tidak stabil atau zig-zag.

Masyarakat Bugis berkeyakinan, mattojang adalah sebuah permianan yang paling digemari dewa padi atau dewi sri. Konon manusia pertama yang turun ke bumi yang menjadi leluhur dewi sri konon diturunkan ke bumi menggunakan tojang yang terbuat dari emas. Tak heran jika dalam mitologi bugis mattojang adalah salah satu bentuk pemujaan kepada dewi sri agar hasil panen mereka setiap tahunnya berhasil atau terus meningkat.

Kepala kelurahan cempa, Faisal menjelaskan, permainan mattojang telah menjadi hiburan tradisonal yang selalu di tunggu-tunggu warga setiap pasca panen. “Ini adalah ajang pesta tahunan petani sekaligus menjadi wahana membangun solidaritas sesama petani,” ujar Faisal.

Sumber : regional.kompas.com

BAGIKAN:

jasa pembuatan website makassar