Razman Arif Nasution Sang Pengacara Besar

Jakarta - Razman Arif Nasution lebih dikenal seorang praktisi hukum ataupun pengacara yang banyak menangani kasus hukum besar. Kasus yang pernah ditangani Razman antara lain gugatan praperadilan Komjen Polisi Budi Gunawan dan gugatan Ketua DPR RI Setya Novanto terhadap Metro TV dan Metrotvnews.com. Razman juga dipercaya oleh warga Kalijodo, Penjaringan, Jakarta Utara sebagai kuasa hukum mereka untuk menggugat Pemprov DKI Jakarta atas kasus penggusuran. Namun, di luar kesibukannya menjadi pengacara, ternyata Razman juga mubaligh. Laki-laki kelahiran Singkuang, Mandailing Natal, Sumatera Utara pada 8 September 1970, ini mengaku sejak lama melibatkan diri dalam kegiatan dakwah baik di kampus atau masjid. Razman kerap pula mendapat undangan ceramah agama di tempat lain. Dakwah Razman pun merambah di televisi. Di stasiun televisi swasta i-News di Medan, Razman pernah mengisi kultum Ramadhan selama sebulan penuh. Sebagai mubaligh, Razman menyatakan adakalanya diperlukan sikap tegas, tetapi di sisi lain bisa dengan lemah-lembut. Jika menyampaikan materi berkaitan kemunkaran, Razman mengulasnya secara tegas dan keras. Sebaliknya, jika mengenai ajakan kepada kebaikan (makruf), Razman yang biasa bersikap tegas itu mengedepankan sentuhan kelembutan. "Itu sesuai dengan ajaran Al Quran bahwa kita harus mengajak manusia ke jalan kebaikan dengan hikmah," ujar Razman. Ia lantas mengutip surat An-Nahl ayat 125 yang artinya, "Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantulah mereka dengan cara yang baik." Kemampuan dasar berdakwah Razman diperoleh dari sang ayah, almarhum Bizarul Hakim Nasution. Ayahnya merupakan ulama cukup dikenal di Sumatera Utara dan penghafal Al-Quran. "Saya sejak kecil banyak mengikuti kegiatan dakwah ayah," cerita Razman. Lebih lagi, ayahnya mendidik Razman dan adik-adiknya melalui prinsip agama yang keras dan tegas. Bahkan, saat Razman kecil tak mau menjalankan ibadah shalat atau puasa, sang ayah tak segan-segan memukulnya. Cara mendidik ayahnya yang tegas itu kini dirasakan manfaatnya oleh Razman. Dari penggodogan ayahnya, bakat berdakwah Razman ditempa lagi di bangku sekolah. Usai menyelesaikan Sekolah Dasar (SD) Singkuang pada 1984, Razman melanjutkan pendidikan ke Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) di Padang Sidempuan. Kemudian melanjutkan ke Sekolah Guru Agama Negeri di kota yang sama pada 1990. Lulus sekolah tingkat SLTA, Razman melanjutkan ke Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) hingga memperoleh gelar sarjana S-1. Di kampus yang sama, Razman melanjutkan studi dan meraih gelar sarjana S-2. Kemudian gelar doktor dari Universitas Sains Malaysia mengenapi deretan gelar akademik yang dimilikinya. Sebelum berprofesi pengacara yang waktunya tersita untuk membela para kliennya yang mencari keadilan, Razman aktif sebagai dosen tetap Fakultas Agama Islam UISU di Medan. Razman juga pernah menjabat pembentu rektor bidang akademik Sekolah Tinggi Agama Islam Mandailing Natal di Medan. Karena aktivitasnya di bidang akademik pula, Razman saat ini dalam proses untuk gelar guru besar. "Insya Allah dalam waktu yang tidak lama saya sudah mendapat gelar guru besar," ungkap Razman. Toh, ia bertekad, sesibuk apa pun selaku pengacara, tetap ingin membagi waktunya untuk berdakwah termasuk dalam dunia akademik (kampus) yang selalu dirindukannya. (emka) Editor:Wawan Poernama

BAGIKAN:

jasa pembuatan website makassar