Akademisi Plus Polisti Didorong Maju Pilkada Oleh Dosen UIN



Makassar-Fenomena Akademisi maju pada pemilihan kepala daerah (Pilkada) menjadi sesuatu yang tidak lazim. Karena bisa disebut berjudi. Kemungkinan untuk kalah itu jauh lebih besar dari pada menang, sudah menjadi stigma umum dimasyarakat.
Hal ini diuangkapkan Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin, Dr.Muh Sabri Ar saat ditemui diruang kerjanya, Selasa (21/09/2016).
Kata dia, keberhasilan beberapa Kepala Daerah yang berlatar belakang akademisi tidak serta merta kita lihat hanya dari latar belakang saja. Tetapi ada kapasitas lain yang dimiliki dan dipadukan untuk menjadi pemimpin yang diharapkan oleh masyarakat.

Lebih lanjut Dr.Sabri mengatakan, politik itu memiliki dua jendela, yaitu high politik dan low politik. “High politik itu adalah politik gagasan, politik ide, politik wacana yang dekat dengan Akademisi, dan Low politik adalah politik praktis dan itu yang diteladankan oleh partai politik,” ungkap kepala prodi Ekonomi Syariah Pascasarjana UIN terbebut.
Akademisi yang ingin bertarung dipilkada menurut Dr.sabri tidak hanya karena mengikuti tren, tetapi harus memiliki kemampuan untuk menjembatani antara high politik dan low politik ditambah pengalaman disejumlah institusi.
Akademisi yang bertarung harus punya nilai plus contohnya akademisi plus politisi, akademisi plus konsultan, akademisi plus NGO dan sebagainya. Sebab, jika hanya mengandalkan high politik dan murni sebagai Akademisi saja bisa mengalami hambatan yang sangat serius.
“Saya rasa kalau hanya Akademisi murni belum bisa diandalkan untuk maju pilkada ditengah carut marut perpolitikan nasional,” tutup Dr.Sabri. (Wan)

BAGIKAN:

jasa pembuatan website makassar