Prof.Laode Husen Minta Optimalkan Bhabinkamtibmas Dalam Pencegahan Kriminalitas Di Masyarakat

Kabarmaspul– Guru Besar Ilmu Hukum Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar Prof. Dr. Laode Husen, SH, MH mengungkapkan beberapa kejadian yang menyita perhatian dan menggangu kemanan dan ketertiban masyarakat. Beberapa aksi kriminalitas dan kejahatan jalanan masih marak terjadi, hal ini tentunya menjadi perhatian bagi Kepolisian dalam menciptakan kemanan dan ketertiban masyarakat. Seperti pesta maut pengantin di Dusun Bontoa, Desa Batulohe, Kecamatan Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba pada Sabtu 25 September 2016 yang berujung tragis. Hanya karena salah seorang warga dalam keadaan mabuk naik ke panggung pesta perkawinan dan ditegur keluarga pengantin, merasa dipermalukan sang pelaku mencabut badik dan menghunuskannya keberapa orang sehingga terjadi saling tikam sesama warga. “Dalam penanganan kejadian tersebut diperlukan aparatur kepolisian yang reponsif dan memiliki kemampuan menggunakan pendekatan yang berbasis kearifan lokal,” ungkap Prof. Laode. Menurutnya, salah satu upaya yang bisa mencegah terjadinya kasus-kasus saling tikam tersebut, masyarakat harus diberikan pemahaman bahwa membawa senjata tajam (badik) ditemapt-tempat keramaian adalah dilarang dan diancam, hukuman. “Dalam hal ini perlu dioptimalkan peran Bhabinkamtibmas, menjadi keharusan dengan menambah jumlah personil, berikut sarana prasarana yang dimiliki. Selain itu peran Forum Komunikasi Pemolisian Masyarakat (FKPM) harus terus digalakan, karena bagaimanapun juga peran Polri dalam memeliharan keamanan dan ketertiban masyarakat harus mendapat dukungan dari semua elemen masyarakat,” pungkasnya. Berbagai upaya yang bisa dilakukan adalah sosialisasi larangan membawa sejata tajam di tempat-rempat umum dengan pendekatan kearifan lokal. Kearifan lokal pada dasarnya adalah cerminan perilaku budaya masyarakat yang terpatri dalam diri masyarakat sebagai jiwa rakyat yang merupakan aturan hidup dalam masyarakat yang tidak statis dan telah ada sejak lama sebagai mozaik yang telah terkonstruksi dari proses sejarah dan berproses secara historis pada sebuah masyarakat. “Kearifan lokal itu tentu tidak muncul serta-merta, tapi berproses panjang sehingga akhirnya terbukti, hal itu mengandung kebaikan bagi kehidupan mereka. Keterujiannya dalam sisi ini membuat kearifan lokal menjadi budaya yang mentradisi, melekat kuat pada kehidupan masyarakat,” katanya. Kearifan lokal yang dimilki masyarakat Bugis merupakan satu modal sosial untuk mewujudkan harkamtibmas. Bugis-Makassar kaya dengan kearifan lokal, ada konsep pangadereng, sipakatau, sipakalabbi, dan sipakainga berlandasakan pada siri na pace. “Dari sini Polri dapat menggunakan pendekatan-pendekatan itu untuk memotivasi masyarakat untuk secara bersama-sama memelihara keamanan dan ketertiban, ujarnya. Pangadereng mengandung banyak makna, diantaranya memiliki makna untuk memelihara dan menumbuhkan harkat dan nilai-nilai insani, esensinya yaitu menjunjung tinggi martabat manusia yang sesungguhnya, menolak segala bentuk kesewenang-wenangan, perkosaan, penindasan, dan kekerasan sebagai unsur dalam sistemnya, menjunjung tinggi persamaan dan kebijaksanaan sehingga makna esensialnya adalah mengandung makna siri. Babinkamtibmas sebagai ujung tombak Polri dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, harus mampu beradaptasi dengan segala perubahan dan perkembangan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, mampu deteksi dini setiap kegiataan yang berpotensi menimbulkan gangguan kemanan dan tindakan kriminal. “Termasuk mampu menggali kearifan lokal (local wisdom) sebagai nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat secara turun temurun,” ujar Guru Besar Ilmu Hukum UMI ini.(Wan)

BAGIKAN:

jasa pembuatan website makassar