Bupati Dengan Kapasitas RI 1

Diminta bukan meminta
8 tahun lalu, ratusan orang dengan menumpang truk mendatangi sebuah perusahaan asing. Tuntutan mereka satu: pimpinan perusahaan tersebut harus mau menjadi pemimpin Kabupaten Bantaeng!
Permintaan yang langka. Biasanya tuntutan demonstran ialah menurunkan pimpinan dari jabatannya, ini malah meminta untuk naik. Anehnya lagi, yang diminta menjabat malah menolak! Lha, kok bisa? Padahal jabatan kepala daerah itu jabatan menggiurkan. Banyak orang sukses, mapan harta, artis, pesohor, berusaha populer dan sebagainya berebut ingin menjadi Kepala Daerah. Lha ini malah menolak?
Siapa dia? Profesor lulusan Jepang, pernah menjadi CEO di sebuah perusahaan Jepang dan sekarang memimpin perusahaan Jepang di Indonesia itu tidak tergiur oleh rayuan jabatan kepala daerah.Istri dan anak-anaknya pun tidak rela dia masuk  ke dalam wilayah politik yang penuh intrik, manipulatif dan kadang menghalalkan segala cara.
Para “demonstran” juga tidak mau menyerah. Mereka tidak akan pulang jika tuntutan mereka tidak di-iya-kan. Hingga malam hari mereka tetap bertahan. Negosiasipun dicoba, hingga diketemukan kesepakatan penagguhan. Mereka pun pulang tapi berjanji akan kembali lagi hingga mendapatkan jawaban “iya”.
Keesokan harinya mereka benar-benar kembali. Kali ini yang datang adalah rombongan ulama. Para kiyai, tokoh-tokoh agama. Permintaan mereka sama, meminta agar profesor ahli pertanian dan kehutanan itu bersedia menjadi pemimpin mereka. Para alim ulama itu datang dengan satu kalimat sakti yang sulit ditolak:
“Alangkah berdosanya seseorang yang menahan memberi kebaikan, padahal ia mampu memberikannya…..”
Sontak ia terpojok, tidak punya pilihan lain kecuali mengucapkan: “bismillah…….”
Kemudian ia mengajak keluarganya mengunjungi Bantaeng melihat langsung untuk meyakinkan keluarganya apakah masyarakat benar-benar membutuhkan mereka dan apakah mereka benar-benar bisa memberikan kebaikan yang dibutuhkan….. Sepulang dari situ, keluarganya mendapatkan keyakinan bahwa pilihan mereka benar.

Tantangan Baru
Melalui jalur independen dan dukungan partai gurem, dia memenangkan Pilkada hampir separuh dari suara pemilih. Tanpa biaya politik, tanpa janji-janji politik, tanpa pembentukan opini.
Dua tahun pertama dijalani dengan banyak penolakan dan gangguan dari lawan politiknya. Semua yang dikerjakan tidak ada yang dinilai benar. Opini publik diputarbalik. Tapi karena nawaitu-nya yang bukan untuk jabatan dan uang, profesor ahli Daerah Aliran Sungai (DAS) ini berhasil menghentikan banjir yang menjadi langganan kota Bantaeng. Kemudian membangkitkan pertanian mandiri, perkebunan, pelayanan kesehatan warga, pelayanan birokrasi, penataan kebersihan, fasilitas publik dan pariwisata. Kesan kota Bantaeng yang enggan disinggahi karena kumuh dan tertinggal, perlahan hilang berganti wujud menjadi kota yang bersih, nyaman dan menyenangkan.
Bantaeng Baru
Periode berikutnya bisa diprediksi, masyarakat memintanya kembali memimpin Bantaeng. Untuk itu dia tidak butuh memasang baliho, spanduk, membuat opini, pencitraan dsb, karena alat promosi-nya sudah terpampang nyata pada berdirinya Rumah Sakit megah di pinggir pantai Seruni. Alun-alun kota yang menjadi tempat interaksi warga tertata bersih sepanjang hari, pabrik pengolahan ikan, agro industri sekaligus wisata di kaki bukit terhampar berisi apel, strawberry dan durian, smelter pengolahan nikel, jalanan mulus mengakses kampung-kampung kecil (termasuk Biangloe, desa tempat saya “dibuang” Kuliah Kerja Nyata puluhan tahun lalu), Pantai Marina yang dulunya pantai jorok dan kumuh kini tersedia cottage dan fasilitas bermain yang bersih layaknya hotel standard yang dikelola secara profesional.
Merasakan perubahan Bantaeng seperti merasakan mimpi yang nyata. Saya tidak pernah sedikitpun merasa mungkin kota yang dulunya tidak dianggap berubah menjadi Bantaeng baru yang berubah total.
na3
Mindset Bersih
Merubah wajah kota dari buruk rupa menjadi tampan rupawan mungkin bisa saja dilakukan di daerah lain, tapi merubah pola pikir adalah sesuatu yang hamoir mustahil, dan Bantaeng berhasil melakukannya. Indonesia ini indah itu sebuah anugrah. Tapi tidak dipungkiri kesan orang Indonesia yang tidak menghargai keindahan dengan kebiasaan membuang sampah sembarangan itu sudah menjadi fakta. Nah, di Bantaeng fakta itu terbantahkan! Terutama di areal alun-alun. Hampir 24 jam tidak terlihat sampah. Karena petugas? mulanya iya. Lama-lama kesadaran dan kebiasaan membuang sampah dengan benar menjadi habbit warga. Pengunjung dari kota lainpun segan.
Rendah hati, berilmu
Saya tiga kali bertemu dengan  pemimpin daerah yang berkantor hanya satu hari seminggu ini. Pertama waktu berkunjung sebagai fotografer dan pejabat salahsatu provider selular, kedua sebagai anggota Oi dan ketiga sebagai peserta Reuni SMADA. Kunjungan pertama kami langsung terkaget-kaget karena disambut dengan makanan berlimpah dan obrolan seru di rumah jabatan Bupati dengan sebagian kawan fotografer bercelana pendek saja. Kunjungan kedua kami mengenakan kaos oblong sama-sama bertuliskan angka 22. Kunjungan itu juga membawa rombongan kami plang dengan perut kenyang penuh buah durian plus sekarung langsat. Kunjungan ketiga sedikit resmi. Kami berbaju putih-putih, melepas balon warna-warni dan diakhiri dengan obrolan diatas anjungan hingga tengah malam.
15145216_1571176052912544_400394051_o
Meski sudah kunjungan ketiga, saya tetap penasaran pada profesor berpembawaan tenang ini. Suaranya tidak pernah meledak-meledak, bahasanya ringan dan teratur. Ketika bersalaman, jika ia sedang duduk, ia akan segera berdiri menyalami siapa saja. Sebuah catatan khsusus harus ditulis pada kesempatan acara Reuni SMADA86 ini, dimana ia sebagai tuan rumah berkesempatan hadir padahal pada saat yang sama ia sedang menjalani masa perawatan usai operasi pita suara di Jepang. Bupati yang namanya sudah dikenal hingga ke Istana Negara ini “memaksakan” dirinya minta ijin dari team dokternya di Jepang untuk kembali ke Bantaeng satu hari, hanya untuk hadir di acara reuni SMADA86. Bukan itu saja, dia mengikuti semua rangkaian acara hingga tuntas. Bahkan disambung dengan obrolan santai di atas anjungan pusat kuliner pantai Seruni hingga jam 2 dini hari!
na2

Ihlas
Kebiasan menghargai tamu dan berkeliling hingga malam hari memastikan warga Bantaeng baik-baik saja ini rupanya sudah menjadi rutinitasnya. Termasuk kebiasaannya setiap pagi menerima keluhan warga di rumahnya.
Waktu saya tanya kenapa dia begitu kuat melakukan semua pekerjaan ini? jawabnya singkat, Ihlas!
Tentang SUL-SEL1
Tentu saja saya tidak akan melewatkan bertanya tentang keikutsertaanya di Pilkada SULSEL. Tapi saya hanya konsen pada apa yang akan sang ahli strategi pembangunan ini akan lakukan jika ia memimpin SULSEL. “Apa yang Bapak akan prioritaskan dilakukan pertama untuk Sul-Sel?”. Jawabnya juga singkat; Akses!
Menurutnya kesenjangan antar Kabupaten terjadi akibat akses jalan yang tidak memadai. Itu mengakibatkan kota Makassar jadi padat. Jika pembangunan merata disemua kabupaten sesuai potensinya masing-masing, maka kota Makassar akan lebih nyaman, Kabupaten lain juga akan bangkit. Untuk itu harus dibangun akses jalan yang menghubungkan kabupaten satu dengan lainnya. Tidak perlu melewati Makassar dulu untuk datang ke Kabupaten lain. So, simple!

na4
Kami mengakhiri obrolan yang ditemani juga oleh Fadli Padi, vocalis band Padi yang mengisi acara Reuni SMADA8 malam itu. Dalam benak saya, pak Nurdin Abdullah ini tidak hanya pantas menjadi Sul-Sel 1, ia malah pantas menjadi RI-1……………
Lamat-lamat suara Fadly Padi terngiang disemilir angin pantai seruni pagi itu…”terang saja aku mendambanya…terang saja aku merindunya, karna dia begitu indah………”
Dia memang seperti padi, makin berisi makin merunduk….
Penulis:Awaluddin Tahir
Editor:Wawan

BAGIKAN:

jasa pembuatan website makassar