Ruang Dan Kapitalis


Jamal Jahid,ST,M.si

Penulis:Jamal Jahid,ST,M.si


Aktivitas mahluk untuk memenuhi kebutuhannya hanya bisa dilakukan pada ruang yang bersifat terbatas dan tak bebas kuasa. Ruang tidak pernah kosong dan selalu mempunyai kualitas tertentu. Kualitas ruang dipengaruhi oleh wadahnya (of space) dan pengisinya (in space). Interaksi keduanya menimbulkan dinamika keruangan yang mestinya diarahkan agar terwujud ruang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan.

Namun kenyataannya, di perkotaan bahkan di perdesaan (Desa Cosmopolitan) terjadi konsumsi ruang atau comsumption of space, akibatnya manusia-manusia kota dan/atau Desa Cosmopolitan hidup dan berkehidupan dalam kendali modal (kapitalis). Manusia kota dan desa (cosmopolitan) "digerakkan" bukan "bergerak" dalam ruangnya.

Penomena ini dapat menimbulkan "spasial chaos" dimana situasi ketika market hanya perduli terhadap ruang-ruang serta lahan-lahan yang dikontrolnya saja, maka ruang perkotaan lainnya menjadi ruang-ruang sisa atau anak "tiri kota" yang terpinggirkan dan terabaikan, oleh Trancik disebut sebagai "lost space".

Ruang terbuang atau "exclusion" inilah yang justru berbalik arah memberikan karma berupa banjir, kemacetan, konflik ruang, kriminal perkotaan dan sebagainya.
Spasial chaos yang terjadi merupakan produk dari apa yang di sebut contradictory space.
Planolog adalah insan yang paling  dinantikan tanggungjawab dan konstribusinya dalam penataaan ruang.

Mari Cerdas merencanakan, arif dan bijak memanfaatkan,dan Konsisten mengendalikan ruang.



BAGIKAN:

jasa pembuatan website makassar