MERETAS FENOMENA ALAM MASSENREMPULU

MERETAS FENOMENA ALAM MASSENREMPULU


Penulis  : Jamal Jahid Haneng.ST, M.si
Editor    : Tim Cyber kabarmaspul.com


Menyimak perbincangan dunia maya dari beberapa group facebook, WA, dan Line yang ber”DNA” Massenrempulu temanya hampir sama yakni “SIAPA” yang akan jadi pemimpin daerah.  Meskipun belum pernah ada kesimpulan, namun perbincangan  tetap saja ramai dan tak membosankan walaupun pembahasan sudah sekian kali di daur ulang.

Berbeda halnya ketika membincangkan kejadian dunia nyata “APA” penyebab peristiwa banjir bandang yang menerjak Sossok, Pasaran, Tontonan, Saruran dan lokasi lainnya  serta  Karengke dimana saya  pernah menjadi “juru lelang” di mushollah tepi  Sungai Mata Allo pada setiap bulan ramadhan demi penggalangan dana pembangunan masjid. Keberadaan sungai menjadi daya tarik semaraknya sholat berjamaah di mushollah tersebut.

 Aliran air sungai yang jernih dan tenang menjadi tempat mandi dan wudhu  para jamaah dan warga sekitar. Tetapi kini yang berjamaah ke sungai adalah mesin-mesin pompa dan pipa  untuk menghisab air keruh hingga sungai kering kerontang demi menyiram tanaman.Semoga semarak sholat berjamaah tidak ikut berubah (kering).


Fenomena dunia maya dan dunia nyata diatas  membuat saya tergelitik menulisnya,  sekaligus “obat mujarab” mengatasi kejenuhan perjalanan darat selama 8 jam Paris – Amsterdam. Akibat takut gagal fokus dan paham yang berujung berpaham salah terkait tema “SIAPA”maka saya lebih memilih mengulik APA penyebab kerusakan alam (banjir bandang).


Kausalitas penomena alam  (banjir) sangat  jelas dan tegas di sebutkan dalam kitab suci Al-Qur’an, yang terkadang tidak sesuci perilaku penganutnya.  Berdasarkan ayat Al-qur,an dalam surah  Al-Rum 41 yang terjemahnya “telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Ayat tersebut menegaskan bahwa banjir merupakan reaksi dari aksi dan “perilaku” kita terhadap alam dan menjadi pengingat  agar kita segera kembali “sadar” untuk memperlakukan alam secara patut.


Gejala aksi dan reaksi dapat dibuktikan dengan hukum ketiga Newton: untuk setiap aksi selalu ada reaksi yang sama besar dan berlawanan, atau gaya dari dua benda pada satu sama lain selalu sama besar dan berlawanan arah. Dengan demikian banjir bandang yang telah dan semoga tidak terulang adalah buah dari kesalahan “perilaku kita terhadap alam atau singkatnya kesalahan “etika ekologi”.


Etika ekologi pada dasarnya mengurai konsep bagaimana posisi dan relasi eksistensial Tuhan, Alam dan Manusia. Untuk dapat mengkonsepsikan  hal tersebut membutuhkan serangkaian paradigma. Paradigma yang digunakan; Pertama Teosentris, dimana menempatkan manusia sebagai makhluk pilihan Tuhan yang totalitas kehidupannya harus ditujukan untuk penghambaan.

Alam dipandang hanya sebagai obyek-obyek penunjang kebutuhan manusia dalam proses optimalisasi penghambaan kepada Tuhan. Meskipun tujuannya baik, namun mementingkan manusia dan seakan-akan melegalkan penjarahan alam demi tercapainya tujuan ritualitas ibadah manusia kepada Tuhan. Pemahaman seperti ini umumnya muncul dari kesalahpahaman dalam memahami dotrin agama

Kedua Antroposentris (paradigma Cartesian-Newtonian), manusia diposisikan sebagai subjek superior dan alam sebagai obyek inferior. Manusia bukan lagi sebagai peziarah (viatormundi) sebagai pencipta bumi (faber mundi) yang berada diluar hukum dan kerangka kerja alam (Husain Heryanto).

Pandangan antroposentris dicap sebagai biang keladi dibalik keganasan sains dan teknologi dalam mengekploitasi dan merusak alam. Penggunaan pestisida, pupuk, zat kimia, polusi kendaraan, bom ikan, jaring harimau, dan pabrik industri dan lainya adalah kerja dari sains dan teknologi (dunia ilmiah). Dunia modern saat ini sebagaian manusia telah “mempertuhanan” dunia ilmiah (Atheis).

Manusialah yang menentukan segalanya di atas alam, karena seluruh fenomena alam dapat dikontrol dengan pendekatan ilmiah. Jika tanaman kurang subur berikan pupuk, jika terserang hama berikan pestisida, sehingga jika tetap kurang subur dan terserang hama solusinya tambahan pupuk dan pertisida meskipun dosis atau kadar melebihi ambang batas.

Manusia “produksi”tidak lagi peduli resiko yang akan diterima manusia “komsumsi”. Nilai-nilai kemanusian telah terperangkap oleh jebakan dunia ilmiah. Bagi mereka kehidupan manusia sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Tuhan. Mereka percaya adanya Tuhan tapi terjebak pada pemahaman deistik, yaitu cara pandang yang menempatkan Tuhan sebagai Devine Clock Maker. Konteks ini, Tuhan dan alam layaknya sebuah jam dinding.

 Tuhan sudah tidak lagi ikut campur dalam kehidupan alam (termasuk manusia), karena alam sudah memiliki swa-atur yang berjalan secara mekanis.
 Ketiga Ekosentris atau Deep Ecology, cara pandang ini kebalikan dari antroposentris. Seluruh entitas benda (manusia atau non manusia) membentuk satu kesatuan utuh yang terintegrasi dan terikat dalam relasi simbiosis mutualisme, dan secara intrinsik memiliki nilai yang sama (Fritjof Cafra,1997).

Manusia adalah salah satu jejaring hidup alam yang tunduk pada hukum dan kerangka kerja jagad semesta. Manusia tidak diposisikan dirinya sebagai subyek superior, tapi makhluk yang harus menyelaraskan dirinya dengan alam.


 Pandangan ekosentris makin populer setelah Arne Naess memperkenalkan gerakan Deep Ecology. Gerakan deep ecology, kunci utama pelestarian ekologi adalah bagaimana manusia mengharmonisasikan dirinya dengan alam dan mensakralisasi semua entitas alam.

Disinilah muncul nilai-nilai kearifan lokal yang menjadi aturan dan simbol martabat bagi suatu komunitas. Penerapan kearifan lokal dapat dilihat di suku kajang, suku baduwi dalam, suku anak dalam dan masyarakat Bali  dan beberapa daerah lainnya. Pada kalimat ini tangan saya harus berhenti menekan keyboard, lalu bertanya dalam hati apakah Massenrempulu tidak memiliki kearifan lokal?, dan jika memang ada kenapa tidak dikenalkan kepada generasinya dan diinternalisasi dalam kebijakan pembangunan?. Atas 2 pertanyaan tersebut, saya membuat dua pula hipotesa  pertama, kerusakan alam akibat pengabaian kearifan lokal, hipotesa kedua, kerusakan alam akibat masyarakat sebagian besar berperilaku antroposentris.

Syamsul Bahri, dalam disertasinya menyebutkan bahwa Massenrempulu memiliki kearifan lokal dalam menjaga alam seperti “A’paAlliri” yang dikenal oleh masyarakat Matajang , “Pappasang” yang dikenal oleh masyarakat Tapong dalam menjaga hutan (Paundanan E.B), dan “Ritual memanggil air” di Kaluppini. Setelah menelisik lebih jauh, lokasi penerapan kearifan lokal belum pernah didapatkan informasi terjadinya bencana alam yang extrim.

Dengan demikian hipotesa pertama, dapat diterima bahwa mengabaikan nilai-nilai kearifan lokal penyebab kerusakan alam (ekologi).

Referensi kearifan lokal Massenrempulu informasinya diakui sulit ditemukan. Akibatnya, transformasi pengetahuan kearifan lokal tidak berjalan. Hal tersebut berimbas pada pembuatan kebijakan pembangunan nir kearifan lokal. Ini menjadi tugas dan tanggungjawab bersama untuk kembali melacak, mengumpulkan, mendokumentasikan, menghidupkan serta mentransformasi kepada generasi nilai-nilai kearifan lokal sebagai warisan leluhur. point penting dari hal tersebut adalah lahir generasi MASPUL yang tangguh, berkarakter dan memahami  pohon jatidirinya.

Minimnya pengetahuan kearifan lokal pada masyarakat dapat dilihat dari karakter “sumbu pendek”.  Masyarakat cenderung mudah tersulut emosi, terprovokasi, meledak dan mementingkan kepentingan diri dan golongannya inilah ciri-ciri masayarakat bersumbu pendek. Selain itu mengekploitasi alam, hanya pertimbangan dan berorientasi produksi dan nilai ekonomi yang diraup, kerusakan lingkungan dan resiko bencana urusan belakangan.

Pembalakan hutan lindung, pengunaan pestisida dan pupuk tak sesuai dosis, dan pengunaan bahan pengawet serta vandalisme situs sejarah merupakan perilaku yang dianggap “lumrah”. Dengan demikian hipotesa kedua, dapat diterima bahwa kerusakan alam diakibatkan karena sebahagian masyarakat sudah berperilaku antroposentris.


Sesuai uraian diatas, mengingatkan kita istilah mentalitas frontier oleh Chiras (1985) dengan tiga konsep ajaran dasar yakni; 1) dunia sebagai penyedia sumberdaya yang tak terbatas untuk digunakan manusia,dan tidak perlu perlu berbagi dengan segala bentuk kehidupan lain yang memerlukannya.Bumi memiliki kapasitas yang tidak terbatas untuk menerima dan mengolah pencemaran, 2) manusia itu terpisah dari alam dan bukan merupakan bagian dari alam itu sendiri, dan 3) alam dilihat sebagai sesuatu yang harus ditundukkan dan teknologi merupakan alat yang paling ampun untuk menundukkan alam.
Mentalitas frontier sudah sangat kuat mempengaruhi pola pikir, pengambilan keputusan, tujuan dan harapan individu dan masyarakat (Maspul), bahkan sebagai dasar pembenaran tindakan.

Ciri detail pemahaman masyarakat terjangkit virus mentalitas frontier diantarnya; bumi adalah bank sumber daya yang tak terbatas, bila sumber daya habis, akan pindah ke tempat lain, hidup semakin baik jika makin bertambah kesejahteraan material (ekonomi), alam harus ditundukkan, teknologi merupakan solusi masalah lingkungan yang dihadapi, manusia berkuasa terhadap alam dan, limbah adalah sesuatu yang harus diterima dari setiap usaha manusia.


Jargon pembangunan berkelanjutan masih tergantung di awan belum membumi di bumi Massenrempulu. Mengabaikan, menghalangi apalagi merampas hak yang lain adalah bentuk kebiadaban yang nyata. Alam yang kita manfaatkan saat ini bukan sepenuh milik generasi kita tapi juga adalah “hak mutlak” generasi mendatang. Merusak Alam berarti menzholimi generasi , sebaliknya menjaga alam berarti menyelamatkan generasi.


Akhirnya saya tersadar mengapa diskusi tentang “SIAPA” menjadi penting karena ditangannya lahir kebijakan sumbu pendek atau sumbu panjang dan  destruktif atau konstruktif. Kita berharap hadir tangan kreatif yang  mampu menyusun, mengarahkan dan mengeksekusi kebijakan pro lingkungan demi  terwujudnya ruang yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan.


BAGIKAN:

jasa pembuatan website makassar