Oknum Wartawan Memeras? Lapor Dan Pidanakan


Kabarmaspul - Laskar Merah Putih Sulsel bersama sejumlah elemen masyarakat membuat petisi mendorong profesionalisme jurnalis.
Kesepakatan ini lahir di sela-sela dialog akhir tahun yang mengangkat tema ‘Dampak Sosial Media Terhadap Masyarakat, Instansi Pemerintah dan Swasta’, disalah satu warung kopi di jalan Boulevard Panakkukang Makassar, Kamis (15/12/2016).

Dalam petisi yang berisi tiga poin penting ini dibacakan langsung Sekretaris Laskar Merah Putih Sulsel, Djaya Jumain.
Pertama, mendesak Dewan pers untuk menindak tegas oknum wartawan yang menyalahgunakan tugas dan fungsinya sebagai wartawan esuai Undang-Undang nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. 
Kedua, pihak erkait yang dirugikan oleh okmum wartawan dapat melporkan secara langsung ke Dewan Pers ataau melalui lembaga pers dan Laskar Merah Putih Sulsel.
Ketiga, mendoron erusahan pers untuk memperhatikan dan lebih menjamin kesejahketraan wartawa yang bekerjaa atau bertugas sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.
Djaya mengatakan, petisi ini akan dikirim ke Dewan Pers di Jakarta. Termasuk ke masing-masing organisasi profesi wartawan di Sulsel dan di tingkat pusat. Serta masing-masing perusahaan media di Sulsel.
Ketua Laskar Merah Putih Sulsel, Andi Nur Alim, mengatakan, dengan lahirnya petisi ini, diharapkan tidak ada lagi jurnalis yang menyalahgunakan profesinya.
“Berdasarkan laporan dan pengaduan di Markas Merah Putih Sulsel dari masyarakat dan sejumlah pejabat pemerintah dan swasta di kabupaten/kota dan provinsi di bidang pelayanan publik mengenai banyaknya oknun wartawan mengaku dari berbagai media datang melakukan intimidasi dan pemerasan dengan dasar nara sumber bermasalah dengan hukum. Padahal jurnalis bekerja dan bertugas dengan kode etik jurnalistik yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers,” jelasnya.
Nur Amil mengatakan, atas itu pulalah pihaknya menggelar dialog akhir tahun ini.
Ketua Perhimpunan Jurnalis Indonesia (PJI) Sulsel, Abdullah Rattingan, yang menjadi salah satu narasumber, mengatakan, pihaknya senantiasa selalu menekankan kepada anggotanya untuk tetap menjalankan profesi jurnalis dengan mengacu kepada kepada Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik yang dikeluarkan Dewan Pers.
Dimana pada pasal 7 UU Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers itu, salah satu poinnya adalah wartawan memiliki dan menaati Kode Etik Jurnalistik. “Nah, di dalam Kode Etik Jurnalistik itu jelas-jelas jurnalis diminta menjalankan profesinya secara profesional dan independen,” jelasnya.
Abdullah menjelaskan, di dalam Kode Etik Jurnalistik yang Disusun Dewan Pers pada pasal 1 mengatakan, wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.
“Nah, memeras itu bagian dari itikad buruk. Pada pasal 2 juga mengatakan wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik. Jadi memeras, mengancam orang lain, juga bagian dari cara-cara yang tidak profesional. Serta, pasal 6 menjelaskan, wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap. Nah, mengancam dan memeras orang, itu jelas perbuatan menyalahgunakan profesi,” terangya.
“Kami di PJI Sulsel senantiasa menekankan kepada rekan-rekan jurnalis untuk tetap berada pada koridor yang ada, mengacu kepada UU Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers, kode etik jurnalistik, dan aturan internal masing-masing perusahaan media,” tambah doelbeckz, sapaan akrab Abdullah Rattingan.

Pada kesempatan itu, Abdullah memberikan tips, jika memang ada pejabat pemerintah maupun swasta mengalami intimidasi dan pemerasan dari oknum wartawan.
“Kalau memang ada yang merasa diintimidasi dan diperas di lapangan, langkah pertama tanyakan dari mana medianya, setelah itu cek langsung ke perusahaan media bersangkutan, laporkan ke organisasi profesi wartawan salah satunya PJI Sulsel. Kalau memang ada anggota PJI Sulsel yang melakukan pelanggaran itu, maka kita akan tindak tegas. Termasuk melakukan komunikasi dengaan perusahaan media yang bersangkutan. Jangan sekali-kali memenuhi permintaannya untuk memberikan uang, sebab mereka akan terbiasa dan akan mengulanginya lagi,” tegasnya.
Selain Abdullah, turut hadir sebagai nara sumber, Ketua Ikatan Wartawan Online Sulsel Hendra Nick Artur, Koordinator Lintas Forum Komunikasi (FoKaL) NGO Sulawesi Djusman AR, Pengamat dan Akademisi, Arqam Azikin.
Arqaam Azikin mengatakan, tantangan jurnalis ke depan akan semakin ketat dan terseleksi secara alamiah. “Ke depan profesi wartawan akan menghadapi masalah yang kompleks dengan masuknya wartawan-wartawan asing. Makanya sangat dibutuhkan profesionalsime seorang wartawan,” ujarnya.(Wan)

BAGIKAN:

jasa pembuatan website makassar