Jalan Panjang NH Menuju SulSel 1

Nurdin Halid

Kabarmaspul.com- Tahun 2003 adalah episode buram dalam karier politik Nurdin Halid. Ia harus mengakui kekalahan di suksesi Gubernur Sulsel dari pasangan HM Amin Syam-Syahrul Yasin Limpo.
Di tahun yang sama, Nurdin terpilih sebagai Ketua PSSI pada tahun 2003. Setahun kemudian ia ditahan karena diduga terlibat skandal gula impor hingga harus mengendalikan roda organisasi PSSI dari balik jeruji besi.
Kontroversi pria kelahiran Bone ini belum berakhir. 16 Juni 2005, dia dinyatakan tidak bersalah atas tuduhan tersebut oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dan dibebaskan.
Sayang, putusan ini dibatalkan Mahkamah Agung dua tahun berselang, yakni pada 13 September 2007. Ia divonis dua tahun penjara.
Selain kasus ini, ia juga terlibat kasus pelanggaran kepabeanan impor beras dari Vietnam dan divonis penjara dua tahun 6 bulan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Utara pada 9 Agustus 2005. Seperti dikutip Wikipedia, 17 Agustus 2006 ia dibebaskan setelah mendapatkan remisi bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia.
Setelah bebas, Nurdin kembali menancapkan pengaruh politiknya di Partai Golkar. Tahun 2013, ia membuka perseteruan lamanya dengan Syahrul Yasin Limpo, di pilwalkot 2013.
Nurdin ngotot menduetkan Supomo Guntur dengan adik kandungnya, Kadir Halid. SYL meradang. Gubernur dua periode itu menolak keras Kadir Halid sebagai pendamping Supomo.
Ia menginginkan mantan Supomo diduetkan dengan Farouk Mappaseling Betta. Tapi campur tangan DPP memutuskan “perkawinan paksa” Supomo-Kadir.
Perlawanan SYL kian mencapai titik didih. Ia membuka poros baru dengan mendorong adik kandungnya, Irman Yasin Limpo (None) maju berpasangan dengan Busrah Abdullah. Poros dadakan ini memberi efek kejut luar biasa pada Partai Golkar.
Misi SYL mengacak-acak soliditas Golkar Makassar yang mengusung Supomo-Kadir berhasil. Suara pasangan ini jeblok. Tapi sayang poros SYL juga harus menerima kenyataan gagal mengatasi elektabilitas Danny-Ical yang disokong oleh Ilham Arief Sirajuddin.
Sama-sama tumbang tidak lantas memutus gesekan politik keduanya. Nurdin terus bergerilya di DPP.
Perpecahan di DPP Partai Golkar yang melibatkan kubu Aburizal Bakrie dengan Agung Laksono sejak 2014 kembali memicu ketidakharmonisan SYL-Nurdin. Puncaknya, ketika SYL memutuskan maju di Munas Golkar tahun 2016.
Gagal di munas, SYL menghadapi sentimen friksi politik dari kubu Setya Novanto. Mantan Bupati Gowa itu digoyang. Setelah SYL lengser didoronglah Nurdin Halid menjadi plt Ketua Golkar Sulsel.
Pergantian ini terjadi saat Partai Golkar sedang menghadapi dua momen politik krusial, Musda Golkar Sulsel dan Pilgub 2018. Banyak kader menyebut pergantian itu “kudeta” untuk memutus pengaruh imperium Yasin Limpo di Sulsel.
Nurdin dipandang bermanuver untuk mengganggu kepentingan Ichsan YL yang disiapkan menjadi suksesor SYL di pilgub. Benar saja. Nurdin yang sudah mengalkulasi kekuatan Ichsan di DPD II menunda musda tanpa batas waktu.
Misinya untuk membelah soliditas DPD II setidaknya efektif sampai hari ini. Golkar Sulsel pelan-pelan ia kendalikan dan para loyalis SYL mulai ia rangkul.
Berikutnya, Nurdin menjadi figur terkuat calon gubernur usungan Partai Golkar untuk didorong pada pilgub 2018. Nah bagaimana akhir cerita sang politikus?(Wan)

BAGIKAN:

jasa pembuatan website makassar