Pengamat Menilai Paket Golkar-Golkar Tak Kompetitif

Golkar

Kabarmaspul.com- Star dini Partai Golkar dalam menatap Pilgub Sulsel 2018 dinilai positif. Namun, jika Setya Novanto tetap memaksakan mendorong kombinasi Golkar-Golkar, hasilnya bakal tidak kompetitif.
Pengamat politik Juanda H Alim berpendapat, Golkar tidak bisa mengambil farameter politik bahwa Sulsel adalah lumbung suara mereka, hingga memaksakan paket Golkar-Golkar. Farameter itu keliru, karena efek kerja-kerja partai politik hanya berpengaruh sampai 30 persen dalam menjaring suara.
“Pengaruh partai itu sekarang cuma 20 sampai 30 persen saja. 70 persen itu orang memilih figur. Jadi keliru kalau dipaksakan paket Golkar-Golkar,”kata Juanda dihadapan para mesia, Selasa (14/2/2017).
Merujuk pada wacana paket Nurdin-Roem, Juanda menilai, keduanya memiliki basis suara yang searah. Artinya, kantong suara pemilih Nurdin dengan Roem punya karakteristik yang identik.
“Kalau dipadukan tidak produktif. Pemilih NH dengan Roem sama basisnya. Jadi tidak menambah suara Golkar secara signifikan,” jelas Juanda.
Ia memaparkan, secara sosiologis, NH dan Roem sama-sama merepresentasi suku Bugis. Nurdin punya basis rill di Bone sedang Roem di Sinjai.
Tetapi jika berbicara efisiensi, tanpa Roem pun, Nurdin bisa merebut Sinjai. Karena pada prinsipnya Bugis sudah mencakup Bone, Soppeng, Wajo dan Sinjai.
“Karakter pemilih sosiologis di Bugis itu cukup mudah direbut. Saya prediksi, NH bisa sukses merebut Bone jika mengusung isu kampanye seperti Ilham Arief Sirajuddin dulu, yang unggul hingga 61 persen,” jelasnya.
Kedua, di Golkar, NH dan Roem sudah sama-sama mengakar. NH saat ini mengendalikan 24 DPD II.
Juanda yakin tidak ada ketua DPD II yang berani membangkang. Semua loyalis Syahrul Yasin Limpo, sudah “eksodus” ke NH. Jadi menurutnya, tidak perlu lagi kader Golkar mendampingi Nurdin karena kelihatan akan mubazir.
“Kalau sekadar penguatan di partai malah mubazir. Karena NH sudah mengendalikan penuh Golkar Sulsel, tidak perlu lagi kader lain ikut memperkuat akarnya,” timpalnya.
Resistensi Golkar-Golkar juga bisa merugikan NH. Dia akan kehilangan kantong pemilih sosiologis di Selatan Selatan. Masuknya Roem berpotensi menggerus kelompok secara kesukuan, Makassar.
Lantas figur seperti apa yang dibutuhkan NH? NH butuh figur yang memiliki basis pemilih tradisionil dan rasional. Di dua kelompok inilah dulu, SYL dan IAS saling menggerus.
SYL merebut pemilih rasional di atas 60 persen. Ini karena ia sudah dicitrakan sukses membangun Sulsel lima tahun sebelumnya. Sementara IAS merebut pemilih tradisionil karena faktor Aziz Kahhar Mudzakkar.
“Ini yang harus dicari Golkar. Figur yang minimal bisa menyokong NH mendulang suara pada kelompok tradisionil,” jelas Juanda.
Kelompok rasional juga penting, tetapi populasinya menurut Juanda tak signifikan. Kelompok ini masih dipenuhi swing voters.
Mereka baru akan menentukan pilihan mendekati hari “H”, setelah melihat program dan integritas calon.
“Yang penting sekarang merebut dulu kelompok tradisionil. Bagaimana caranya, ya disitulah mesin partai bekerja,” kunci Juanda.(Zul)

BAGIKAN:

jasa pembuatan website makassar