5 Warkop Legendaris Di Kota Makassar

Kopi

Kabarmaspul.com- Kota Makassar tidak bisa dipisahkan dengan kopi. Kebiasaan meminum kopi menjadi tradisi masyarakat Kota Daeng secara turun temurun. Makanya, anda tidak akan kesusahan untuk mencari tempat untuk menyeruput kopi saat berada di Makassar.
Bagaimana tidak, warung kopi dengan mudah anda temukan di semua sudut-sudut Kota Makassar. Umumnya orang-orang memilih mendatangi kedai atau warung, untuk merasakan sensasi aroma kopi sambil mengobrol. Selain cita rasa, suasana interaksi sesama pengunjung kedai menjadi daya tarik tersendiri. Tidak sedikit, yang merasa aktivitasnya tidak lengkap jika dalam sehari tidak nongkrong di warung kopi.
Warung kopi di Makassar selalu dihiasin oleh orang-orang dari berlatar belakang berkumpul bersama. Ada yang membicarakan hal santai, ada juga yang membahas pekerjaan serius. Semua di tengah suasana riuh menikmati sajian kopi lokal yang terkenal, Toraja dan Kalosi.
Beberapa tahun belakangan ini rutinitas ’ngopi’ di Makassar bisa dibilang semakin bertumbuh, seiring menjamurnya kedai kopi dengan konsep modern coffee shop. Pelan-pelan, kaum muda mengikuti kebiasaan menyesap kopi yang dulunya didominasi kalangan dewasa.
Namun di antara gempuran warung modern, beberapa warkop masih berdiri tegak dan diteruskan dari generasi ke generasi. Racikan kopi yang berbalut romantika masa lalu masih menjadi alasan kenapa warkop ini masih terus didatangi orang-orang. Selama puluhan tahun, tempat-tempat itu menjadi pilihan favorit warga kota menjalankan ritualnya setiap hari.
Berikut berita-sulsel.com merangkum 5 warung kopi legendaris di Kota Makassar untuk menjadi rujukan menyeruput kopi.
1. Kedai Kopi Phoenam
Bagi pecinta kopi, menyebut kata warkop dan Makassar, mungkin akan langsung teringat pada warung kopi (warkop) Phoenam. Warung kopi Phoenam ini, Phoe Nam berarti terminal atau tempat persinggahan selatan, sudah ada sejak tahun 1946 di Makasar.
Awalnya berdiri dengan nama Phoenam Cold Drinks di kawasan Jalan Nusantara. Liong Thay Hiong mendirikan kedai ini awalnya sebagai tempat singgah pelaut yang bersandar di pelabuhan. Sesuai nama Phoenam yang dalam bahasa mandarin berarti persinggahan selatan.
Warung Phoenam berpusat di jalan Jampea, dan bisa dijumpai di sejumlah cabang, seperti jalan Boulevard dan jalan Ratulangi. Setiap harinya, kedai ini ramai dikunjungi. Kunjungi Phoenam pagi hari, dan temukan orang dari beragam latar belakang di sana. Mulai dari pebisnis, pekerja kantoran, hingga politikus elit.
Selain di Makassar, satu cabang berdiri di jalan KH Wahid Hasyim Jakarta terkenal dikujungi oleh masyarakat Sulsel yang bermukim di ibukota. Menu andalan di tempat ini kopi atau kopi susu yang diolah sepenuhnya secara manual. Konon citarasanya bertahan selama puluhan tahun. Ada juga menu yang terkenal, teh susu dan roti bakar isi selai kaya.
2. Warkop Tong San
Warkop Tong San ini termasuk salah satu warkop tertua di Makassar, telah ada sejak tahun 1943. Dulunya, warkop Tong San dibuka pertama kali oleh Liem Sie bersama suaminya. Namun, suami Liem Sie meninggal terkena bom yang berasal dari kapal Jepang. Jadilah, Liem Sie menjalankan warkop ini turun temurun hingga sekarang oleh generasi ketiga atau cucunya, Tuty Holis.
Awalnya warkop Tong San berada di sekitar daerah Pecinan, tepatnya di Jalan Banda. Karena kejadian yang merenggut nyawa suaminya itu, Liem Sie kemudian membawa anak-anaknya pindah ke sekitar Pantai Losari dan bertahan hingga sekarang.
Nama Tong San berarti Matahari Terbit dalam bahasa Tionghoa. Nama itu diberikan karena awalnya warkop ini buka sejak pukul 04:00 dini hari sampai sore hari. Pelanggan utama mereka saat itu adalah nelayan dan penjual ikan.
Racikan kopi Liem Sie inilah yang dipakai hingga sekarang. Liem Sie dan suaminya adalah orang Hainan, dan seperti kebanyakan orang Hainan, mereka juga diberkahi kemampuan meracik dan menyeduh kopi.
Sangat mudah menemukan warkop ini. Letaknya di pertigaan Jalan Pasar Ikan dan Jalan Haji Bora. Untuk lebih mudahnya lagi, ada Makassar Golden Hotel (MGH) yang menjadi patokan untuk mencari posisi pasti letak warkop Tong San.
Menu warkop ini memang sangat sederhana; hanya kopi hitam, kopi susu dan telur setengah matang. Namun, bentuk asli bangunan dan interior termasuk cangkir, meja dan kursinya yang masih asli membawa suasana seakan kita meneguk kopi di masa lalu. Sebagai kudapan peneman kopi, tersedia kue tradisional seperti apam paranggi, roko’ cangkuning, pawa’ dan lain-lain.
Di bagian depan warkop, ada gerobak penjual buroncong (kue pancong). Pengunjung warkop bisa menikmati kopi sambil makan buroncong hangat. Waktu terbaik untuk ke warkop ini adalah di hari Minggu pagi.
3. Warkop Hai Hong
Selain Phoenam dan Tong San, ada satu lagi warkop yang termasuk warkop tertua yaitu warkop Hai Hong yang terletak perempatan Jalan Bonerate-Jalan Serui, Makassar, yang berdiri sejak tahun 1945.
Konon, kedai ini sudah berdiri sebelum Indonesia merdeka. Sampai sekarang masih berlokasi di tempat awalnya dibangun, jalan Serui. Lokasinya di tengah pemukiman etnis Tionghoa yang strategis, dekat dari pelabuhan dan pusat kota Makassar.
Bangunan kedai yang mempertahankan arsitektur klasik menjadi daya tarik tersendiri. Sajian kopi khasnya juga menarik perhatian pengunjung. Di sini, kopi disajikan dengan berbagai pilihan. Mulai kopi hitam, kopi susu, serta tambahan lain seperti madu, jahe, dan gula merah. Pengunjung bisa memilih, porsi besar atau kecil.
4. Warkop Dottoro
Warung kopi ini pertama kali berdiri di jalan Tinumbu pada 1960-an, sebelum cabang-cabangya menyusul di sejumlah lokasi. Nama dottoro dalam bahasa Makassar berarti dokter. Pendirinya, H Naba, bermaksud menjadikan tempatnya sebagai penyembuh rasa jenuh bagi kaum pria dengan sajian kopi khas yang harum dan nikmat. Menu andalannya kopi susu yang disajikan kental.
Tempat ini menjadi tempat berbaur masyarakat dari berbagai macam kelas, dari tingkat bawah hingga atas. Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo konon selalu menginginkan kopi dari tempat ini menemaninya saat menjalani rapat-rapat penting.
H. Daeng Naba yang memulai ‘karir’ sebagai peracik kopi dari menjadi tukang cuci gelas hingga memiliki puluhan warung kopi. Usia 12 tahun, Dg Naba hanyalah seorang tukang cuci gelas di warkop kepunyaan salah satu pamannya. Sang paman yang tidak memiliki anak akhirnya menurunkan pengetahuan meracik kopi padanya.
Pada tahun 2003, Daeng Naba mengubah nama warkopnya menjadi Warkop Dottoro. Dalam bahasa Makassar, Dottoro adalah pelafalan dari kata ‘dokter’. Penamaan Warkop Dottoro ini sendiri bermakna bahwa kopi dapat menyembuhkan kejenuhan kaum pria dan mengusir rasa suntuk akibat berdiam diri di rumah. Nama Dottoro ini sendiri adalah usulan dari Husain Abdullah, yang biasa disapa Uceng. Uceng kini adalah juru bicara Jusuf Kalla, Wakil Presiden RI.
Saat ini Warkop Dottoro sudah memiliki puluhan cabang yang tersebar di Makassar dan kota lain di Sulsel. Tercatat ada 20 cabang di Makassar dan tujuh cabang di beberapa kabupaten. Beberapa di antaranya ada yang dikelola oleh anak atau keluarga Daeng Naba. Para pengunjung warkop-warkop Dottoro pada umumnya terdiri dari berbagai kalangan, baik itu anak muda hingga ke orang tua. Pengusaha maupun pejabat.
5. Warkop Daeng Sija
Lokasinya di jalan Topas Raya. Daeng Sija, pemilik warung kopi ini, masih kerabat dengan H Naba. Tempat ini juga menyajikan kopi dengan cara manual. Salah satu yang khas, karena kopi diseduh dan dipanaskan di atas kompor minyak yang menghasilkan aroma khas. Nikmati menu andalan kopi susu dengan aneka penganan tradisional Makassar.
Saat ini Sija mengembangkan usahanya dengan membentuk franchise di beberapa lokasi di Makassar. Adapun pusatnya di Jalan Topaz Raya, sejak dua tahun lalu berganti nama menjadi Coffee Holic by Sija.(Zul)

BAGIKAN:

jasa pembuatan website makassar