Rakyat Bicara DP Dalam Mendesain Menuju Kota Dunia,Bisakah?

Danny Pomanto

Kabarmaspul.com- Kemiskinan adalah struktur paling vital yang membentuk ketertinggalan. Salah satu instrumen yang dibangun Wali Kota Moh Ramdhan Pomanto adalah mendesain peradaban baru dari lorong-lorong. Seperti apa?
Mengapa harus dimulai dari lorong? Karena lorong identik dengan segala bentuk keterbelakangan. Lorong yang apek, sumpek, jorok dengan 1.001 persoalan sosial.
Dulu, lorong identik dengan kekumuan. Di loronglah lahir interaksi negatif. Sekitar tahun 1980-an hingga pengujung 1990-an, masyarakat lorong tak berkembang, baik secara ekonomi. Apalagi dalam konteks sosial.
Selama bertahun-tahun lorong tak tersentuh apa-apa, kecuali hanya keterbelakangan. Padahal jumlah mereka hampir sepertiga populasi masyarakat Makassar.
Secara kuantitatif, masyarakat lorong adalah potensi besar. Sayangnya, mereka menjadi masyarakat kelas dua yang tidak pernah dilirik.
Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto tampaknya menyadari persoalan ini. Karena itulah ia memulai pembangunan dari lorong.
Masyarakat tradisionil di lorong dijadikan subjek utama pembangunan. Sehingga mereka bukan lagi penonton tapi pelaku. Dari sana kesadaran mereka akan pentingnya menjaga lingkungan akan tumbuh.
“Waktu itukan ada stigma bahwa masyarakat lorong itu kasta kelas dua. Di situlah muaranya masalah. Dan itu berlangsung turun temurun. Kini, lorong harus naik kelas,” kata Danny.
Caranya? Kata Danny, filosofinya yang harus dibentuk. “Kita ingin perubahan pola pikir dimulai dari lorong. Kalau warga lorong saja sudah bisa berpikir maju, kenapa yang lain tidak,” jelasnya.
“Saya melihat ini peluang besar. Kita bisa lebih maju kalau pembangunan di lorong berkesinambungan,” katanya.
Di lorong, semua bisa dimulai. Dari menata ekonomi kerakyatan, kesehatan, sampai mendorong pendidikan yang merata.
Ia menangkap, masyarakat yang berdiam di lorong pada prinsipnya punya keinginan untuk memperbaiki taraf ekonominya. Hanya saja selama ini, jalannya tidak terarah.
Hampir tidak ada kebijakan yang secara langsung menyentuh hajat hidup mereka. Dengan hadirnya program di lorong-lorong, aspek-aspek pembangunan akan berjalan lebih maju.
“Karena itulah saya mencoba membendung keterbelakangan itu. Dari sudut pandang inilah saya memulai semuanya. Saya habiskan setahun untuk membangun pondasi berpikir manusia di lorong,” jelas Danny.
Hasilnya pun mulai terlihat. Setidaknya di sektor kebersihan lingkungan, keterlibatan masyarakat jauh lebih baik.
Tak heran kalau di tahun pertamanya menjadi wali kota, Danny langsung diganjar dengan Piala Adipura. Kemudian, supremasi kebersihan ini kembali direngkuh untuk kedua kalinya pada 2016.
Awaluddin Suleman, pelaku ekonomi kerakyatan yang juga pengusaha properti mengatakan, resolusi ekonomi Danny cukup fundamental. Ia memulai pada hal yang sangat urgen yakni di masyarakat terbawah.
Cara ini efektif dalam mengangkat industri kreatif yang sebenarnya berpotensi tumbuh di lorong-lorong.
“Solusinya tepat karena ia memulai dengan perubahan pola pikir. Dari sana lorong-lorong itu nanti akan didorong agar bisa mandiri membangun ekonomi warganya,” jelasnya.
Perubahan pola pikir menurutnya hal yang sangat penting. Kalau masyarakat sudah sadar akan perannya pada pembangunan, sebut Awaluddin, maka mereka dengan mudah diajak untuk terlibat dalam berbagai kegiatan ekonomi.
Keterlibatan dalam kegiatan ekonomi secara otomatis akan menekan kesenjangan. Masyarakat juga akan semakin kreatif mencari sumber-sumber pendapatan.
“Apa yang dibangun Pak Danny saya kira sangat realistis. Kalau ini bisa dijaga, maka ekonomi rakyat akan tumbuh dengan baik,” kata Awaluddin.
Ia menyebutkan, perbaikan sektor ekonomi akan menjadi pondasi bagi seluruh aspek kehidupan di masyarakat. Ekonomi akan menumbuhkan kesadaran sosial.
Dalam setahun terakhir, Awaluddin melihat ada efek besar pada perubahan adaptasi sosial masyarakat lorong. Pertama, mereka mulai mudah digerakkan, karena tumbuhnya keterikatan dengan pemerintah.
Kedua, pemahaman terhadap konsep pembangunan tercerna dengan baik. Ketiga, manusia di lorong semakin sadar dengan perannya.
“Karena mereka paham arahnya, ya mereka dukung. Bukankah dukungan masyarakat itu modal terbesar dalam pembangunan. Tidak mungkin kita bisa rancang Makassar menjadi kota dunia kalau lorong tidak terurus. Makanya saya apresiasi sekali pembangunan itu dimulai dari lorong,” paparnya.
Artinya, penataan aspek sosial sudah terbangun dengan struktur yang lebih rapi. Perbaikan dua sektor ini juga berperan meredam kebiasaan-kebiasaan konflik sosial di masyarakat tradisional Makassar.
Awaluddin juga mengatakan, tak hanya ekonomi yang akan tumbuh baik, di lorong kesan apek dan ketertinggalan sosial bisa disingkap.(Fitri)

BAGIKAN:

jasa pembuatan website makassar