Ini Keuntungan Punya Teman Posesif

Ilustrasi

Kabarmaspul.com- Kelakuan teman posesif pun setali tiga uang dengan pacar posesif—bedanya minus peluk, cium, dan fasilitas antar-jemput saja, he he he. Misalnya, nih, saat kita liburan tanpa ngasih kabar, si posesif langsung telepon dan protes kenapa nggak diajak. Pas kita pergi belanja bareng teman kantor, eh, si posesif ‘menuduh’ kita sudah melupakan dirinya dan lebih memilih teman kantor! Hadeeeh….
Posesif berasal dari kata possess, yang kalau diartikan adalah memiliki atau menguasai sesuatu. Jadi, nggak usah heran jika si posesif merasa memiliki temannya, bahkan kadang cenderung mengendalikan. Menurut Gede J. Wirasmoro, psikolog, ada beberapa hal jadi penyebab seseorang menjadi posesif terhadap temannya—yang jelas, bukan karena penyakit keturunan atau faktor genetik, ya.
“Kebanyakan, perilaku ini disebabkan karena pernah mengalami perasaan sedih dan menyakitkan yang sifatnya traumatis. Nah, trauma ini akan menimbulkan rasa takut kehilangan, sehingga menyebabkan seseorang menjadi posesif,” kata Gede.
Misalnya, nih, di pertemanan sebelumnya, si pelaku pernah dikhianati oleh temannya sendiri. Karena nggak mau pengalaman serupa terulang, akhirnya pelaku memilih bersikap posesif agar nggak disakiti lagi. Selain itu, bisa juga disebabkan oleh karakter dominan atau need of controlling yang memang besar dalam diri pelaku.
“Setiap orang, dalam kadar tertentu, sebenarnya memiliki kebutuhan untuk mengontrol. Hanya saja, pada beberapa individu, hal tersebut menjadi prioritas,” tambah Gede.
Namun, berteman dengan si posesif juga punya keuntungan tersendiri. Berikut tiga keuntungan punya teman posesif:
1.Dalam level tertentu, kita akan merasa nyaman dengan perhatian yang diberikan. Karena pada dasarnya, si posesif memang sangat care terhadap orang-orang terdekatnya.
2.Selalu merasa dilindungi dan dijaga.
3.Punya sosok yang bisa diandalkan. Maklum saja, si posesif akan melakukan apa pun untuk menolong temannya.
Di sisi lain, si posesif juga punya kebiasaan minus yang bakal membuat kita gerah:
1. Nggak bebas beraktivitas, terutama jika lagi membutuhkan waktu sendiri—si posesif ngintilin melulu, sih.
2. Rawan konflik, misalnya saat ada keinginan berbeda.
3. Melelahkan secara emosional karena dinamika hubungan yang naik-turun—kadang baik, kadang buruk.
4. Rawan dimusuhi, terutama saat kita nggak mau melakukan apa yang diinginkannya.(Kiki)

BAGIKAN:

jasa pembuatan website makassar