AL MARKAS , DAN GELIAT MIMBAR



oleh : *lSaifuddin Al Mughniy

Disebuah mesjid di kota daeng yang begitu megah, berdiri kokoh dipusat kota, hiruk pikuk kendaraan dan suara knalpot, begitu hilang tatkala adzan di kumandangkan di mesjid itu, yakni mesjid Al markaz al islami. Namun, saat itu tak seperti biasanya dengan hari-hari jumat sebelumnya, begitu banyak awak media yang lalu lalang dalam area mesjid, suasana menjadi heroik, sebab saf-saf terdepan telah diisi oleh sederet tokoh, ada walikotadan wakil walikota makassar, ada calon walikota Appi CEO PSM makassar, ada ketau demokrat sulsel, dan ada AHY (Agus Harimurti Yudoyono) putera presiden keenam RI SBY.

Sesaat itu imam besar mesjid al.markaz mempersilahkan CEO PSM tampil di mimbar untuk memberi sefikit testimoni terkait posisi PSM di klasmen Liga Indonesia, des meminta kepada masyarakat sulsel untuk berdoa bagi kemenangan PSM di musim ini.  Saya begitu kaget saja dengan tampilan CEO PSM ini. Tetapi teks kemudian menjadi liar dalam perspektif politik, nalar mulai "genit" mengemas teks-teks yang ada.

Memang politik terkadang "imanensi" serba terkurung. Walikota sebagai pemangku kepentingan di kota makassar tak kebagian ruang di "mimbar" itu. Sebuah makna kelupaan telah terjadi, atau memang sengaja lupa, ataukah ini tak lebih dari perebutan panggung. Yah, terkadang memang politik merebut panggung namun melupakan ruang. APPI, telah berhasil mencuri panggung.

Pada sesi berikutnya, AHY tampil dengan menyapa dengan lembut para jamaah. Sekedar "basa basi" tapi mengandung pesan moral, sosok muda merebut panggung. Mimbar pun tak dibiarkan kering walau hanya sebatas seloroh politik. Apa benar, kalau seseorang sudah berkuasa aksn korup ? mungkin ini ada benarnya walau tidak seluruhnya salah, yah, karena politik kekuasaan telah "mencuri panggung", mimbar tak ubahnya sebagai momentum mendaras diksi.

Karenanya, mimbar kembali menjadi liar ketika naluri kekuasaan menjadi obsesi mengisi ruang keummatan dan publik karena alasan politik. Sekejam itukah politik ? hingga meruntuhkan esensi mimbar ? begitu rakuskah kekuasaan ? kalau kemudian mimbar menjadi seruput tontonan. Lalu inikah politik atas nama agama ? yang ditolak oleh sebagian orang.

Tapi terkadang memang politik tak perlu "mappakatabe", nilai, penghormatan serta pranata dilabrak tergantung siapa yang berkepentingan. Demokrasi semakin mengalami pembonsaian, terkesan hanya dimiliki orang perorang. Ini bukti kecelakaan sistemik demokrasi.


.

BAGIKAN:

jasa pembuatan website makassar