POLITIK YANG MENCEMASKAN


oleh : *saifuddin al mughniy*

Kembali mendaras politik tentang nilai. Persoalan ini memang tak nampak seperti matador yang melabrak penunggangnya. Liar, berontak dan amarah menyelimuti gelanggang para penikmat matador di Espana. Keberanian menghadapi tantangan bukan tanpa alasan, bagi mereka di bangsa Spanyol, matador adalah pengujian keberanian dalam berbagai hal dalam kehidupan. Mereka mengasah mentalitas untuk menjadi bangsa petarung.

Perkembangan demokrasi memang sulit di bendung mengingat transformasi media yang begitu kencang, berbagai informasi dan berita dapat dilihat dari berbagai link yang dibagikan. Berita hoax maupun berita yang sahih kebenarannya telah merogoh ruang publij masyarakat. Bercampurnya air dengan minyak begitu mudah ditemukan keduanya, namun informasi maupun berita yang tersajikan sulit dipilah mana yang benar dan man a yang salah. Kemampuan menganalisa adalah jalan mendekati kebenaran.

Karenanya, stigma bagi politik seringkali menggugah naluri, betapa tidak sebab politik telah merubah dunia sunyi menjadi riuh dan bergemuruh. Seorabg filsuf sekelas Socrates pernah berucap bahwa pemimpin yang didambakan adalah sosok yang meletakkan pada akal budi, mungkin juga filsuf yang dimaksud atau cerdik pandai. Begitulah filsuf memandang sosok pemimpin.

Tetapi dalam gemuruh politik pilkada yabg digelar sejak 2005 yang lalu hingga saat ini, pahit manisnya demokrasi begitu menyeruput dalan kehidupan masyarakat. Eforia, dendam, kebencian adalah fenonena politik yang tak bisa tertolak. Semua itu didaras dari patologi naluri kekuasaan yang dibilangkan *Sigmund Freud* yang ditulis oleh *Calvin S Hall*, tentang tiga kecemasan yakni, kecemasan realitas, neurotys, moral.

Saat ini politik telah membawa kecemasan-kecemasan, bukan lagi kalah menang dalam kontekstasi, tetapi problem utamanya adalah terseretnya jargon-jargon, simbol dan kehormatan dalam ruang politik. Yah, mungkin ini karena gairah politik demikian liar dan tak terkendali. Ilmuwan ingin tanpil menjadi politisi, politisi ingin tampil sebagai ulama, analis dan pengamat ingin tampil sebagai tim sukse, akademikus pun demikian begitu pula sebaliknya dan  seterusnya, inilah satu jawaban dari kecemasan realitas. Tapi itu tak perlu disalahkan sebab politik memang adalah *keberpihakan*.

Politik dialektika sulit dibendung karena laju informasi yang begitu kuat, isu dan diskursus demokrasi begitu mudah diakses, debat, silang pendapat kerap kali memberi warna tersendiri naiknya tensi politik. Naiknya tensi politik bukanlah jaminan atas kualitas demokrasi. Sehingga politik kecemasan harus mampu dijawab dengan the political trust yakni politik kepercayaan atau keoercayaan politik.**


BAGIKAN:

jasa pembuatan website makassar